Merosot Terus, Dolar Singapura Bisa ke Bawah Rp 10.000?

shape image

Merosot Terus, Dolar Singapura Bisa ke Bawah Rp 10.000?


Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar dolar Singapura masih melemah melawan rupiah pada perdagangan Senin (9/8/2021) sebelum perlahan berbalik menguat. Sepanjang pekan lalu, dolar Singapura juga mencatat pelemahan, meski data ekonomi yang dirilis cukup bagus.

Melansir data Refinitiv, dolar Singapura pagi tadi sempat melemah 0,16% ke Rp 10.575,58/SG$, yang merupakan level terendah sejak 19 Februari lalu. Sementara siang ini, Mata Uang Negeri Merlion berhasil bangkit, menguat 0,09% ke Rp 10.601,81/SG$ pada pukul 11:07 WIB.

Sepanjang pekan lalu dolar Singapura juga melemah 0,75% padahal data dari dalam negerinya cukup bagus jika melihat pembatasan sosial yang diketatkan sejak 22 Juli.

ISH Markit melaporkan aktivitas manufaktur di bulan Juli yang dilihat dari purchasing managers index (PMI) mengalami kenaikan menjadi 56,7 dari sebelumnya 50,1.

PMI manufaktur menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di bawah 50 berarti kontraksi sementara di atasnya artinya ekspansi.

Jika PMI manufaktur Singapura menambah ekspansi, Indonesia justru mengalami kontraksi cukup dalam.

Markit melaporkan PMI manufaktur Indonesia di bulan Juli merosot ke level 40,1 dari sebelumnya 53,4. Ini merupakan kali pertama PMI manufaktur mengalami kontraksi setelah sebelumnya berekspansi dalam 8 bulan beruntun.

Industri manufaktur merupakan penyumbang terbesar dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) Indonesia dari sisi lapangan usaha. Tahun lalu, kontribusi industri pengolahan terhadap PDB adalah 19,88%. Sehingga kontraksi sektor manufaktur tentunya akan berdampak pada pelambatan pertumbuhan PDB.

Artinya, dari sektor manufaktur Indonesia sudah kalah, tetapi dolar Singapura belum mampu menang melawan rupiah.

Kemudian data lain menunjukkan penjualan ritel di bulan Juni tumbuh 1,5% dari bulan sebelumnya (month-on-month/MoM) sementara dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY) melesat 25,8%.

Dengan data-data yang bagus tersebut, dolar Singapura terus saja tertekan melawan rupiah. Sehingga ada peluang berlanjutnya penurunan. Setidaknya hal tersebut terlihat dari analisis teknikal, khususnya jika nanti muncul death cross.

Death cross merupakan perpotongan indikator rerata pergerakan 50 hari (moving average/MA 50) dengan rerata pergerakan 100 hari (MA 100). Dimana MA 50 memotong MA 100 dari atas ke bawah. 

Death cross akan semakin “mengerikan” jika MA 50 juga memotong rerata pergerakan 200 hari (MA 200).




idrGrafik: Dolar Singapura (SGD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

Saat ini dolar Singapura melawan rupiah yang disimbolkan dengan SGD/IDR, sudah mengalami perpotongan MA 50 dengan MA 100. Sedikit lagi MA 50 juga akan memotong MA 200, sehingga tekanan akan lebih besar jika itu terjadi.

Sementara itu, indikator stochastic belum mencapai wilayah jenuh jual. Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Target penurunan dolar Singapura dalam jangka menengah ke RP 10.450/SG$ hingga Rp 10.370/SG$. Untuk jangka panjang, jika didukung dengan fundamental rupiah yang kuat, dolar Singapura bisa kembali ke Rp 10.000/SG$ yang terakhir kali disentuh pada Juni tahun lalu.

TIM RISER CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)





Source link

The post Merosot Terus, Dolar Singapura Bisa ke Bawah Rp 10.000? appeared first on ADIBA.ID.


© Copyright 2021 IKLANADWODS.COM | JASA SEO WEBSITE

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang